Selasa, 09 Juni 2015

MODEL PEMBELAJARAN INTEGRATED

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pernahkah anda sebagai pendidik mengalami kejenuhan saat mengajar karena siswa tidak serius mendengarkan apa yang sedang dijelaskan? Pernahkah anda berpikir anak tidak serius karena tidak tertarik metode yang digunakan? Pernahkah anda berpikir untuk mengubah metode dengan suatu model pembelajaran yang menarik? Bagaimana metode atau model pembelajaran yang menarik? Tulisan ini disusun untuk membantu guru dalam mencari alternatif pembelajaran terpadu di
sekolah dasar.
Pembelajaran yang dikembangkan diharapkan dapat memberikan kebermaknaan belajar siswa di sekolah dasar. Konsep-konsep sains yang diberikan hendaknya saling terkait dengan hal-hal yang sudah diketahui oleh siswa dan berhubungan dengan masa depan siswa. Hal ini sejalan dengan salah satu fungsi sains yaitu mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara kemajuan sains dan teknologi dengan keadaan lingkungan dan pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar akan menjadi lebih efektif apabila kegiatan belajar mengajar sesuai dengan perkembangan intelektual anak (Semiawan, 1990:3). Selain itu juga guru di kelas perlu mengenal setiap anak didik dan bakat-bakat khusus yang mereka miliki agar dapat memberikan pengalaman pendidikan yang dibutuhkan oleh masingmasing siswa untuk dapat mengembangkan bakat-bakat mereka secara optimal sesuai dengan tujuan pendidikan. Anak usia sekolah dasar masih suka bermain, memiliki rasa ingin tahu yang besar dan mudah terpengaruh lingkungan. Dengan demikian pembelajaran di sekolah dasar harus diusahakan dalam suasana yang menyenangkan. Untuk itu guru perlu mengetahui prinsip belajar sambil bermain dan prinsip keterpaduan, karena anak usia sekolah dasar masih berada pada tahap perkembangan yang bersifat holistik (Gagne, 1985). Oleh karena itu pembelajaran di SD hendaknya diusahakan terpadu antara pengalaman, perkembangan dan lingkungan.
Pembelajaran terpadu model integrated merupakan pembelajaran yang memadukan beberapa mata pelajaran dengan memprioritaskan konsep-konsep, keterampilan-keterampilan dan sikap yang dapat dipadukan dari masing–masing mata pelajaran (Fogarty, 1991:74). Pembelajaran terpadu model integrated sebenarnya dapat dilaksanakan dengan leluasa mengingat sekolah dasar menganut sistem guru kelas sehingga memungkinkan guru merencanakan model pembelajaran terpadu. Sesungguhnya perkembangan anak sekolah dasar bersifat holistik, terpadu dan saling terkait erat satu dengan yang lainnya, sehingga lebih mudah dan bermakna bagi anak sekolah dasar untuk mempelajari segala sesuatunya secara utuh.
Perkembangan fisik tidak dapat dipisahkan dari perkembangan mental, sosial dan emosional atau sebaliknya. Perkembangan itu akan terpadu dengan pengalaman, kehidupan dan lingkungan (Kartadinata & Dantes, 1997:18).
Dalam Kurikulum 1994 (SD) terlihat jelas bahwa mata pelajaran dipisah secara tegas dan tidak ada kaitan konseptual, baik intra maupun antar mata pelajaran. Hal ini memungkinkan terjadinya : (1) pengkotakan secara ketat; (2) pembelajaran lebih menekankan pada penguasaan aspek kognitif, kurang memperhatikan aspek lainnya; dan (3) sistem evaluasi lebih berorentasi pada “testing” dengan menekankan pada reproduksi informasi. Sementara itu kurikulum 2013 lebih memberikan keleluasaan kepada guru sebagai pelaksana kurikulum untuk mengem-bangkan desain pembelajaran sendiri sesuai dengan kondisi setempat dan dianggap paling tepat untuk dapat mencapai indikator pencapaian hasil belajar. Selain itu sebaran materi yang tidak terlalu dibatasi secara kaku oleh caturwulan atau semester lebih memungkinkan bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran secara terpadu (lintas mata pelajaran) dalam satu tingkat kelas. Dalam kurikulum 2013 materi pelajaran dalam satu tahun ajaran dapat dipindah atau ditukar, dan penilaian dilakukan secara menyeluruh dengan portofolio.
Uraian di atas menunjukkan bahwa guru dalam posisi sulit, di satu pihak guru dituntut untuk menyelesaikan target kurikulum, ia harus memberikan seluruh materi kurikulum kepada anak dengan waktu terbatas dengan penilaian hasil belajar lebih mengukur pada aspek kognitif, sedangkan di pihak lain guru dituntut untuk melakukan pembelajaran lebih bermakna. Oleh karena itu pembelajaran terpadu model integrated ditawarkan sebagai suatu model yang dapat diterapkan dengan harapan pembelajaran dapat menarik siswa dan hasil belajar dapat ditingkatkan secara optimal
B.     Rumusan Masalah
Dari uraian permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran integrated?
2.      Bagaimana contoh penerapan model pembelajaran integrated dalam pembelajaran (khususnya di SD)?
3.      Apa sajakah kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran integrated?
C.    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat diketahui tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui dan lebih memahami apa yang dimaksud dengan model pembelajaran integrated agar kelak para guru dan calon guru tidak merasa kebingungan ketika model ini bisa dijadikan sebagai salah satu model yang digunakan untuk menyampaikan suatu materi pembelajaran.
2.      Untuk memberikan pemahaman pada guru dan calon guru mengenai penerapan model pembelajaran integrated ini ketika diimplementasikan dalam kelas (khususnya di SD).
3.      Untuk memberikan pengetahuan bahwa suatu model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, begitupun dengan model pembelajaran integrated ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pembelajaran Terpadu Model Integrated
Menurut Fogarty (1991:76) pembelajaran terpadu model integrated merupakan pendekatan belajar mengajar yang memadukan empat atau lebih mata pelajaran dengan memprioritaskan konsep-konsep, ketrampilan-ketrampilan atau sikap yang dapat dipadukan dari masing-masing mata pelajaran yang bertolak dari tema sentral. Pembelajaran terpadu model integrated secara psikologis dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi anak, karena anak mengalami secara langsung dan menghubungkannya dengan konsep-konsep lain. Hal ini sesuai dengan falsafah I hear- I forget, I see- I remember, I do- I understand.
Dengan demikian pembelajaran terpadu model integrated dapat memberikan peluang yang besar bagi peningkatan hasil belajar dan pengembangan kreativitas siswa secara bermakna ke arah pencapaian tujuan pembelajaran yang optimal. Sesuai taraf perkembangannya siswa melihat dunia sekitarnya secara menyeluruh dan belum dapat memisahkan bahan kajian yang satu dengan lainnya. Untuk itu perlu direncanakan suatu model pembelajaran yang bersifat terpadu dengan menggunakan tema sebagai payung untuk mengaitkan beberapa konsep (Fogarty, 1991:55).
Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar untuk memperoleh hasil belajar yang optimal dan bermakna, diterapkan model pembelajaran yang berpusat pada aktivitas anak serta memperhatikan cara berpikir anak. Siswa sendiri aktif membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur kognitif yang telah dimilikinya.
Menurut Piaget (dalam Dahar, 1989:43) siswa sekolah dasar berada dalam tahap operasi konkret, berarti anak perlu benda-benda konkret untuk membantu proses belajar. Kemudian ia juga menyatakan bahwa melalui bermain anak-anak dapat mengekspresikan dunianya, kompetensinya dan upaya mengatasi masalah yang dihadapinya sehingga daya kreasi dan kreativitas anak terbina dalam proses bermain.
Peter (dalam Depdikbud, 1995) menyatakan bahwa nilai tambah pembelajaran terpadu tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi guru. Melalui pembelajaran terpadu, siswa diharapkan dapat memahami suatu permasalahan secara menyeluruh. Dengan demikian siswa lebih memahami arti kehidupan, yang saling terkait antara konsep pelajaran dengan masalah yang ada di sekitar. Selain itu siswa juga dapat meningkatkan keterampilan proses sains, berkomunikasi, memecahkan masalah, berpikir kritis dan kreatif. Bagi guru pembelajaran terpadu dapat meningkatkan keterampilan mengorganisir dan merencanakan pengajaran serta membina semangat kerja sama dengan teman sejawat.
Pembelajaran terpadu model integrated perlu dikembangkan pada suatu pembelajaran di SD, karena lebih memungkinkan siswa untuk memahami suatu fenomena dan berbagai segi. Penerapan pembelajaran terpadu model integrated lebih memungkinkan terbentuknya semacam jalinan antarskemata (pengetahuan) yang telah dimiliki siswa sesuai dengan potensi yang ada pada diri siswa.
Selain memiliki kelebihan, pembelajaran terpadu model integrated memiliki keterbatasan, terutama pada aspek penilaian. Penilaian instruksional pembelajaran terpadu lebih banyak menuntut guru tidak hanya melakukan penilaian akhir tetapi menuntut penilaian proses yang lebih komprehensif, sehingga menuntut penilaian yang lebih beragam.
Pembelajaran terpadu model integrated menggunakan pendekatan antar mata pelajaran, yang dalam pelaksanaannya perlu upaya penggabungan beberapa mata pelajaran dengan menetapkan prioritas materi esensial, serta keterampilan dan sikap yang bertolak dari tema sentral. Guru pertama-tama menyeleksi konsep-konsep, keterampilan dan sikap yang akan diajarkan dalam satu semester dari beberapa mata pelajaran yang akan dipadukan. Selanjutnya dipilih beberapa konsep, keterampilan dan sikap yang memiliki hubungan erat dari beberapa mata pelajaran bertolak dari tema sentral yang telah ditentukan. Contoh pembelajaran terpadu model integrated diterapkan di kelas 4 dengan tema teknologi yang memadukan mata pelajaran sains, matematika, ilmu sosial dan Bahasa Indonesia.
Pembelajaran integrated (terpadu) merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu, siswa akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh, sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Bermakna disini memberikan arti bahwa pada pembelajaran terpadu siswa akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antar konsep dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran.
Pembelajaran terpadu tipe integrated (keterpaduan) adalah tipe pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi, menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih dalam beberapa bidang studi (Fogarty, 1991: 76).
Ada sejumlah KD yang mengandung konsep saling beririsan/tumpang tindih, sehingga bila dibelajarkan secara terpisah-pisah menjadi tidak efisien. Konsep-konsep semacam ini memerlukan pembelajaran model integrated atau shared. Pada model integrated, materi pembelajaran adalah KD-KD atau konsep-konsep dalam KD yang sepenuhnya beririsan; sedangkan pada model shared, KD-KD atau konsep-konsep dalam KD yang dibelajarkan tidak sepenuhnya beririsan, tetapi dimulai dari bagian yang beririsan.

B. Implementasi Model Pembelajaran Integrated
Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 secara tegas mengatakan pembelajaran pada Kelas I s.d. III dilaksanakan melalui pendekatan tematik, sedangkan pada Kelas IV s.d. VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. Wacana perubahan pada kurikulum 2013 semua kelas pada sekolah dasar menggunakan pendekatan tematik integratif. Penerapan model tematik integratif tidak meninggalkan model dan metode pembelajaran yang lain. Tematik integratif merupakan model payung. Strategi pembelajaran lain yang bertujuan untuk meningkatkan kecakapan tertentu tetap dilaksanakan dengan pendekatan tematik integratif. Penerapan untuk kelas rendah (1, 2, dan 3) Sekolah Dasar dilakukan dengan pendekatan tematik webbed jaring labang-laba. Kelas atas (4, 5, dan 6) dengan pendekatan integrated atau terpadu beberapa mata pelajaran.
Persoalan yang muncul selama ini dalam penerapan pembelajaran tematik integratif adalah ketidakberanian dan kegamangan guru dalam menerapkan tematik integratif selain pendekatan standar isi yang masih pendekatan mata pelajaran juga karena kurangnya pengetahuan. Penerapan pendekatan tematik integratif membutuhkan persiapan dan kompetensi yang memadai. Clark (2005) menjelaskan untuk merancang dan melaksanakan kurikulum integartif diperlukan syarat-syarat sebagai berikut: 1) filosofi; 2) mengembangkan staf; 3) komunitas pembelajar yang mendukung (supportive learning communities); dan 4) Kepemimpinan yang berdedikasi.
1)      Filosofi, perencana dan pelaksana kurikulum harus memahami filosofi dan teori yang melandasi pembelajaran integratif dan berpusat pada siswa; dan filofosi dan teori materi pelajaran. Penerapan sebuah metode pembelajaran harus didasari pada teorinya. Penguasaan filosofi dan teori yang kuat, memberi keyakinan keberhasilan pelaksanaannya. Perencanaan pembelajaran yang dimulai dari merumuskan indikator pembelajaran sebagai penjabaran standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) membutuhkan penguasaan filosofi dan teori atau isi mata pelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dengan memperhatikan isi materi, pencapaian kecakapan dan perilaku (afektif), serta ranah psikomotor. Perencanaan pelaksanaan pembelajaran dengan menyiapkan strategi pembelajaran yang tepat membutuhkan pemahaman terhadap strategi tersebut.
Contoh penerapan model pembelajaran integrated di kelas 1
Perumusan indikator pembelajaran memerlukan kecermatan untuk tidak meninggalkan keluasan dan kedalaman materi; berpikir tingkat tinggi; kecakapan afektif dan psikomotor; dan pendidikan karakter. Perumusan indikator pembelajaran didahului dengan melakukan pemetaan materi yang diawali dari tema.
Tema               : Diri Sendiri
Isi Materi         : 
Nama
Anggota tubuh
Jenis kelamin
Kesukaan terhadap warna
Kesukaan terhadap benda
Alamat rumah
Kesukaan terhadap makanan
Berdasarkan materi yang tercantum pada di atas dan dari esensi diri pribadi, dan taksonomi tujuan pembelajaran Bloom (Anderson dan Krathwohl, 2001) indikator pembelajaran yang dapat didiskusikan sebagai berikut :
1)      menyebutkan nama sendiri dengan pelafalan dan intonasi yang benar
2)      mendiskusikan dengan teman sebangku bagian anggota tubuh
3)      menghitung jumlah anggota tubuh dan benda yang menempel pada tubuhnya
4)      memerinci waktu bangun pagi, berangkat sekolah, pulang sekolah, dan tidur malam
5)      membandingkan ciri-ciri diri sendiri dengan teman lainnya
6)      mengidentifikasi, menyusun dan menjiplak huruf-huruf penyusun namanya

Contoh penerapan model pembelajaran integrated di kelas 4
Penerapan model pembelajaran integrated (terpadu) memadukan SK/KD masing-masing mata pelajaran yang saling terhubung untuk membangun suatu topik utama. Gabungan dari masing-masing KD menjadi dasar dalam menentukan indikator pembelajaran dan tujuan pembelajaran.Ambil contoh kelas IV untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan Matematika.
KD Bahasa Indonesia: 
Ø  Menulis petunjuk untuk melakukan sesuatu atau penjelasan tentang cara membuat sesuatu (menulis).
KD IPA: 
Ø  Mendeskripsikan hubungan antara struktur kerangka tubuh manusia dengan fungsinya.
KD IPS: 
Ø  Membaca peta lingkungan setempat (kabupaten/kota, provinsi) dengan menggunakan skala sederhana.
KD Matematika: 
Ø  Melakukan operasi perkalian dan pembagian.
KD Gabungan yang dapat didiskusikan adalah: 
Ø  menulis petunjuk penggunaan alat peraga struktur kerangka tubuh manusia dan fungsinya, dan menemukan skala antara alat peraga dengan rata-rata tinggi badan siswa.
2)      Mengembangkan staf. Staf dalam konteks ini adalah semua pemangku kepentingan pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan, LPMP, Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah, Guru, dan Tenaga Kependidikan. Pada tataran pelaksanaan kegiatan persekolahan sehari-hari, yang terlibat secara langsung adalah LPMP (khususnya Widyaiswara); Pengawas Sekolah; Kepala Sekolah; dan Guru. Keempat unsur ini dituntut menguasai filosofi dan teori pembelajaran tematik integratif, dan strategi pembelajaran dari sisi keluasan dan kedalamannya. Mekanisme pemeliharaan dan pengembangan kompetensi yang seiring dengan jabatan fungsional yang diembanya dilakukan secara sistematis.
3)      Komunitas Pembelajaran yang Mendukung (supportive learning communities). Sekolah sebagai organisasi dituntut untuk menjadi organisasi pembelajar (learning organisation).
4)      Kepemimpinan yang berdedikasi. Peran pemimpin dalam sebuah organisasi adalah: menciptakan visi, membangun tim, memberikan penugasan, mengembangkan orang, dan memotivasi anak buah (Arjanti, 2012).
C. Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Integrated
Tahap ini merupakan pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar sebagaiunsur inti dari aktivitas pembelajaran, yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan rambu-rambu yang telah disusun dalam perencanaan sebelumnya. Secara prosedural langkah-langkah kegiatan yang ditempuh diterapkan ke dalam tigalangkah sebagai berikut:
1. Kegiatan awal/pembukaan (opening)
Tujuan dari kegiatan membuka pelajaran adalah
Pertama, untuk menarikperhatian siswa, yang dapat dilakukan dengan cara seperti meyakinkan siswabahwa materi atau pengalaman belajar yang akan dilakukan berguna untukdirinya; melakukan hal-hal yang dianggap aneh bagi siswa; melakukan interaksiyang menyenangkan.
Kedua, menumbuhkan motivasi belajar siswa, yang dapatdilakukan dengan cara seperti membangun suasana akrab sehingga siswa merasadekat, misalnya menyapa dan berkomunikasi secara kekeluargaan; menimbulkanrasa ingin tahu, misalnya mengajak siswa untuk mempelajari suatu kasus yangsedang hangat dibicarakan; mengaitkan materi atau pengalaman belajar yang akandilakukan dengan kebutuhan siswa.
Ketiga, memberikan acuan atau rambu-rambutentang pembelajaran yang akan dilakukan, yang dapat dilakukan dengan caraseperti mengemukakan tujuan yang akan dicapai serta tugas-tugas yang harusdilakukan dalam hubungannya dengan pencapian tujuan (Sanjaya, W., 2006:41).
 2. Kegiatan Inti
Kegiatan inti merupakan kegiatan pokok dalam pembelajaran. Dalamkegiatan inti dilakukan pembahasan terhadap tema dan subtema melalui berbagai kegiatan belajar dengan menggunakan multi metode dan media sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Pada waktu penyajian dan pembahasan tema, guru dalam penyajiannya sehendaknya lebih berperan sebagai fasilitator (Alwasilah:1988). Selain itu guru harus pula mampu berperan sebagai model pembelajar yang baik bagi siswa. Artinya guru secara aktif dalam kegiatan belajar berkolaborasi dan berdiskusi dengan siswa dalam mempelajari tema atau sub tema yang sedang dipelajari. Peran inilah yang disebutkan oleh Nasution (2004: 4) sebagai suatu aktivitas mengorganisasi dan mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar.
Dengan demikian pada langkah kegiatan inti guru menggunakan strategi pembelajaran dengan upaya menciptakan lingkungan belajar sedemikian rupa agarmurid aktif mempelajari permasalahan berkenaan dengan tema atau subtema. Pembelajaran dalam hal ini dilakukan melalui berbagai kegiatan agar siswa mengalami, mengerjakan, memahami atau disebut dengan belajar melalui proses (Wijaya, dkk: 1988: 188). Untuk itu maka selama proses pembelajaran siswa mengamati obyek nyata berupa benda nyata atau lingkungan sekitar, melaporkan hasil pengamatan, melakukan permainan, berdialog, bercerita, mengarang, membaca sumber-sumber bacaan, bertanya dan menjawab pertanyaan, serta bermain peran. Selama proses pembelajaran hendaknya guru selalu memberikanumpan agar anak berusaha mencari jawaban dari permasalahan yang dipelajari. Umpan dapat diberikan guru melalui pertanyaan-pertanyaan menantang yang membangkitkan anak untuk berfikir dan mencari solusi melalui kegiatan belajar.
3. Kegiatan Akhir
Kegiatan akhir dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran dengan maksud untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa serta keterkaitannya dengan pengalaman sebelumnya, mengetahui tingkat keberhasilan siswa serta keberhasilan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Cara yang dapat dilakukan guru dalam menutup pembelajaran adalah meninjau kembali dan mengadakan evaluasi pada akhir pembelajaran. Dalam kegiatan meninjau kembali dapat dilakukan dengan merangkum inti pelajaran atau membuat ringkasan. Sedangkan dalam kegiatan evaluasi, guru dapat menggunakan bentuk-bentuk mendemontrasikan keterampilan, mengaplikasikan ide-ide baru pada situasi lain, mengekspresikan pendapat murid sendiri atau mengerjakan soal-soal tertulis (Hadisubroto dan Herawati; 1998 517). Berkaitan dengan evaluasi Vogt (2001:7) menyebutkan bahwa assessment dapat dilaksanakan secara kolaboratif dan sportif antara siswa dan guru. Assessment dapat dilakukan secara formal maupun informal. Formal assessment dapat berupa tes khusus seperti membaca, menulis dan penggunaan bahasa, sedangkan informal assessment berkaitan dengan kemajuan siswa yang dapat dilakukan melalui catatan anekdot, observasi, diskusi kelompok, refleksi dan laporan kelompok belajar. Self assessment bagi siswa akan membantu untuk dapat mengukur kemajuan diri. Mereka juga dapat mengetahui apa yang telah mereka pelajari. Caranya dapat menggunakan checklist, refleksi tertulis, journal.
C. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Integrated
1. Kelebihan Model Integrated
Menurut Fogarty (1991 : 57) kelebihan dari model pembelajaran tematik adalah:
1)      Faktor motivasi, karena adanya pemilihan tema yang didasarkan pada minat.
2)      Penulisan dari unitnya sangat dikenal oleh guru.
3)      Model ini merupakan perencanaan kurikulum yang to the point sehingga mudah ditangkap oleh guru yang kurang berpengalaman.
4)      Model ini juga mendorong timbulnya perencanaan bersama karena sebuah timlintas mata pelajaran bekerja bersama agar tema itu dapat digunakan oleh semua mata pelajaran .
5)      Siswa akan dengan mudah melihat bagaimana kegiatan yang berbeda dapat saling berhubungan.
Lebih lanjut Tim Pengembang PGSD (1996:7) mengemukakan kelebihan yang terdapat dalam pelaksanaan model pembelajaran tematik adalah sebagai berikut:
1)      Pengalaman dan kegiatan belajar peserta didik akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan peserta didik.
2)      Kegiatan yang dipilih sesuai dan bertolak dari minat dan kebutuhan anak.
3)      Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
4)      Pembelajaran tematik menumbuh kembangkan keterampilan berpikir anak.
5)      Menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui dalam lingkungan anak.
6)      Menumbuh kembangkan keterampilan sosial anak seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan respek terhadap gagasan orang lain.
2. Kekurangan Model Integrated
1)      Guru dituntut memiliki keterampilan yang tinggi.
2)      Tidak setiap guru mampu mengintegrasikan kurikulum dengan konsep-konsep yang ada dalam mata pelajaran secara tepat.
3)      Pengintegrasian kurikulum dengan konsep-konsep dari masing-masing bidang studi menuntut adanya sumber belajar yang beraneka ragam.
4)      Dalam penerapannya, sulit menerapkan tipe ini secara penuh.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran integrated (terpadu) merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Penerapan pembelajaran terpadu (tematik integratif) perlu ditetapkan wilayah keterpaduannya, apakah dalam satu mata pelajaran, multi mata pelajaran, antar mata pelajaran atau trans mata pelajaran. Persiapan, monitoring, supervisi dan evaluasi pelaksanaan pembelajaran dilakukan secara berkesinambungan untuk memastikan keefektifan dan keefisienannya.
Setiap model pembelajaran ada keunggulan dan kelemahan, untuk mengatasi kelemahan dari sebuah model pembelajaran bergantung kepada bagaimana guru mengimplementasikan model pembelajaran tersebut dalam bentuk kemasan yang lebih efektif dan efisien. Hasil ujicoba sementara menunjukkan bahwa pembelajaran terpadu model integrated dapat diterapkan di sekolah dasar sebagai alternative pembelajaran dengan keunggulan antara lain: dapat meningkatkan perolehan hasil belajar; dapat memotivasi anak; anak lebih aktif dan kreatif; hubungan guru dengan anak cukup akrab sehingga siswa lebih berani bertanya. Namun demikian ditemukan juga kelemahan seperti tenaga, waktu, biaya dan keterampilan lainnya sehingga berpengaruh terhadap penelitian pembelajaran terpadu model integrated di sekolah.
B. Saran
Pendekatan apapun yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, diharapkan selalu mendudukkan siswa sebagai pusat perhatian dan perlakuan. Peranan guru dalam pembentukan pola kegiatan belajar mengajar di kelas bukan ditentukan oleh didaktik metodik “apa yang akan dipelajari” saja, melainkan pada “bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar anak”. Pengalaman belajar anak diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi secara aktif lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan buatan, serta berkonsultasi dengan nara sumber lain.
Untuk menjadikan siswa aktif dan kreatif dengan terkendali sebaiknya diberikan penilaian secara menyeluruh dan autentik baik terhadap produk berupa tes
setelah pembelajaran berlangsung dan penilaian kinerja yang dilakukan ketika proses
pembelajaran berlangsung dengan observasi keterampilan dan sikap. Mendeteksi
kadar aktivitas setiap siswa dalam pembelajaran memang sulit dilakukan. Cara yang
efektif dilakukan guru disarankan untuk mengamati kegiatan kelompok sesuai dengan jumlah pengelompokan siswa.
Tulisan ini hanya merupakan salah satu alternatif model pembelajaran terpadu di sekolah. Untuk pengembangan di sekolah guru dapat mengemasnya dengan cara lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa dan kondisi sekolah



Gambar Model Integrated

MASALAH PENELITIAN

  •       PENGERTIAN MASALAH PENELITIAN 

masalah penelitian adalah suatu kondisi dimana terjadi kesenjangan antara yang diharapkan dengan fakta yang terjadi dilapangan.Secara umum, suatu masalah didefinisikan sebagai keadaan atau kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
  •       Penentuan masalah dalam penelitian meliput

Identifikasi bidang masalah
žpenentuan atau pemilihan pokok masalah (topik)
žperumusan atau formulasi masalah
  •        Kriteria Masalah
Ada sejumlah criteria yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penemuan masalah penelitian, antara lain :
žmerupakan bidang masalah dan topik yang menarik,
žmempunyai signifikan secara teoritis ata u praktis,
ždapat di uji melalui pengumpulan dan analisis data,
žsesuai dengan waktu dan biaya yang
  tersedia.
ž Tidak bertentangan dengan etika dan moral
  •       Sumber Masalah Penelitian
žKepustakaan yang berhubungan dengan bidang studi kita
žMata kuliah-mata kuliah yang pernah diprogramkan
žJurnal, buku-buku, majalah-majalah, dan abstrak-abstrak.
žSkripsi, tesis, disertasi
žProfesor-profesor, teman
ž
  •        Macam-macam Masalah Penelitian
Model komparatif, dikembangkan jika penelitian dilakukan untuk membandingkan satu atau lebih variabel dalam dua kelompok sampel.
Model asosiatif, dikembangkan untuk penelitian yang bertendensi untuk menjelaskan pengaruh atau hubungan antara dua variabel atau lebih
  •       Kesalahan Umum Dalam Penemuan Masalah 

žPeneliti mengumpulkan data tanpa rencana atau tujuan penelitian yang jelas.
žPeneliti memperoleh sejumlah data dan berusaha untuk merumuskan masalah penelitian sesuai dengan data yang tersedia.
žPeneliti merumuskan masalah peneliti dalam bentuk terlalu umum dan ambiugitas sehingga menyulitkan interprestasi hasil dan pembuatan kesimpulan penelitian.
žPeneliti menemukan masalah tanpa terlebih dulu menelaah hasil-hasil penelitian sebelumnya dengan topik sejenis, sehingga masalah penelitian tidak didukung oleh kerangka teoritis yang baik.
žPeneliti memilih masalah penelitian yang hasilnya kurang memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori atau pemecahan masalah praktis.
  •   Metode Penemuan Masalah


Ide untuk menemukan masalah penelitian umumnya berasal dari masalah-masalah penelitian sebelumnya. Peneliti memperoleh ide dengan cara mengembangkan masalah-masalah peneliti sebelumnya. Aspek-aspek yang dapat dikembangkan dari masalah-masalah penelitian sebelumnya, antara lain adalah :lingkungan dari subyek yang diteliti, dimensi atau perspektif masalah penelitian, dan metode penelitian.

  •       MEMILIH MASALAH PENELITIAN

Pertimbangan dalam memilih masalah penelitian :
  • žMasalah masih baru
    žAktual
    žPraktis
    žMemadai
    žSesuai dengan kemampuan peneliti
    žSesuai dgn kebijaksanaan pemerintah
    žAda yang mendukung

STRATEGI PEMBELAJARAN PKN

1.      Diskusikan tentang konsep nilai, moral, norma dalam muatan materi yang di ambil !
2.      Sesuaikan dengan standar isi di permendiknas sesuai dengan kurikulum baru
3.      Strateginnya dijabarkan serta langkah – langkah penerapan di dalam kelas, di sesuaikan dengan materi!
4.      Media pembelajaran, alasannya ?
Desain tentang diskusi materi, langkah –langkah pembelajaran ketika diterapkan di sd!
5.      Model yang diambil di dalam proses sesuai tidak?
Dan apa prinsip – prinsip dasar model, metode dan strateginya ?
6.      Gagasannya yang memikirkan strategi siapa ?
7.      Buatlah kesimpulan hasil diskusi mengenai pembelajaran !
1.      Diskusikan tentang konsep nilai, moral,dan norma  
a.       Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia.Nilai yang terkandung dalam pembelajaran kali ini yaitu  :
1.      Toleransi : sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
2.      Kerja keras : tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
3.      Bersahabat / Komunikatif : sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan oarng lain.
4.      Peduli sosial : sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
5.      Cinta damai : sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain
b.      Moral adalah tindakan yang memiliki nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi.moral yang terkandung dalam pembelajaran ini yaitu :
1.  Karena toleransi berkenaan dengan hubungan dimasyarakat maka moral yang berkaitan adalah baik buruk.
2.   Karena kerja keras berkenaan dengan diri sendiri maka moral yang berkaitan adalah untung rugi
3.    Karena bersahabat/komunikatif berkenaan dengan hubungan diri sendiri maka moral yang berkaitan adalah untung rugi
4.  Karena cinta damai berkenaan dengan diri sendiri maka moral yang berkaitan adalah untung rugi
5.  Karena peduli sosial berkenaan dengan hubungan di masyarakat maka moral yang berkaitan adalah baik buruk
c.       Norma yang terkandung adalah:
1.      Norma agama        : Indonesia dan negara-negara anggota ASEAN adalah negara yang
beragama dan mengakui akan adanya Tuhan
2.      Norma kesopanan   : Indonesia adalah negara yang menghargai hak dan kewajiban Negara
lain dan tidak akan ikut campur tangan dalam masalah pribadi negara lain
3.      Norma kesusilaan   : Indonesia adalah negara yang cinta damai dan bersahabat dengan
negara-negaara lain di kawasan Asia Tenggara
4.      Norma Hukum        : Indonesia adalah negara yang sangat menjunjung tinggi hukum, baik
hukum yang berlaku dalam negaranya sendiri maupun hokum yang berlaku di negara-negara lain.
2.      Standar Kompetensi
Memahami peran Indonesia di antara negara-negara ASEAN.
3.      Kompetensi Dasar
      Menjelaskan Peran Indonesia Dalam Kerjasama Negara Asia Tenggara.

2.      Strategi pembelajaran        : Strategi pembelajaran berbasis masalah
Strategi pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran berbasis masalah. Metode pemecahan masalah adalah suatu cara menyajikan pelajaran dengan mendorong peserta didik untuk mencari dan memecahkan suatu masalah/persoalan dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Langkah-langkahnya
1.      Bahan-bahan yang akan dibahas terlebih dahulu disiapkan oleh guru.
2.      Guru menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan sebagai bahan pembantu dalam memecahkan persoalan.
3.      Problem yang disajikan hendaknya jelas dapat merangsang peserta didik untuk berpikir.
4.      Guru menjelaskan secara umum tentang masalah yang dipecahkan.
5.      Peserta didik dapat bekerja secara individual atau berkelompok.
6.      Pemecahan masalah dapat dilaksanakan dengan pikiran.
7.      Data diusahakan mengumpulkan sebanyak-banyaknya untuk analisa sehingga dijadikan fakta.
8.      Membuat kesimpulan.
3.      Metode yang digunakan
-        Metode problem solving
Metode problem solving bukan hanya sekedar metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode berfikir sebab dalam metode problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai dari mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
-        Metode diskusi
Disini siswa dituntut untuk dapat menemukan pemecahan masalah dari masalah yang dihadapi dengan cara berdiskusi. 
4.      Media yang digunakan     : LKS, Buku paket, dan peta ASEAN
Alasannya                         : Karena dengan media tersebut guru lebih mudah menerangkan
pelajaran Peran Indonesia dalam Lingkungan Negara-Negara ASEAN dengan mudah dan agar para siswa gampang mengerti. 
5.      Model Pembelajaran         : Pembelajaran Koperatif 
Model Pembelajaran Kooperatif, Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah
Langkah – langkah pembelajaran dalam kelas
1.      Kegiatan Awal
a.    Apersepsi
·      Guru mengajak siswa untuk berdoa sesuai dengan agama masing-masing.
·      Guru melakukan presensi harian siswa.
·      Guru mengajak siswa untuk bernyanyi lagu “Naik Delman”, yang syairnya diubah menjadi “ASEAN dibentuknya di negara Thailand, beranggota Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Brunai, Vietnam, Laos, Myanmar, Kamboja, semua itu ASEAN”. Dan bermain menyusun puzzle peta Negara anggota ASEAN.
b.    Orientasi
·      Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
2.      Kegiatan inti
a.       Siswa mendapatkan penjelasan guru terkait dengan proses terjadinya deklarasi Bangkok.
b.      Siswa mencatat nama-nama negara ASEAN.
c.       Siswa mencatat tujuan berdirinya ASEAN.
d.      Siswa mendiskusikan bentuk kerja sama negara-negara ASEAN.
e.       Siswa mengidentifikasi bentuk-bentuk kerja sama antar negara ASEAN bersama kelompoknya.
f.       Guru membimbing dan mengawasi kegiatan siswa.
g.      Siswa mempresentasikan hasil diskusinya.
h.      Guru meluruskan hasil presentasi siswa yang kurang tepat
i.        Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
3.      Kegiatan akhir
a.       Siswa di bawah bimbingan guru menyimpulkan materi.
b.      Guru memberikan PR kepada siswa.
5 Kesimpulan
    Pembelajaran pkn harus tahu tentang kewarganegaraan nya dan Di dalam pembelajaran PKN seharusnya memiliki komitmen yang kuat dan konsistennya terhadap perinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.